Infus (Terapi Cairan Intravena)
Pemberian cairan, elektrolit, atau obat langsung melalui pembuluh darah
Rp 200.000
30-60 menit (pemasangan dan observasi)
Indikasi:
Dehidrasi: Diare, muntah, demam tinggi, tidak bisa minum cukup
Penyakit infeksi: Tifus, demam berdarah (DBD), malaria, infeksi berat yang perlu antibiotik IV
Persiapan operasi dan selama operasi
Pasien tidak bisa makan/minum: Penurunan kesadaran, gangguan menelan, mual muntah berat
Pemberian obat IV: Antibiotik, antiemetik, analgesik, kemoterapi
Gangguan elektrolit: Hipokalemia, hiponatremia, asidosis
Syok: Syok hipovolemik, septik, anafilaksis - perlu resusitasi cairan cepat
Perdarahan: Untuk transfusi darah atau pengganti volume darah
Keracunan: Untuk pemberian antidotum dan mempercepat eliminasi toksin
Gagal ginjal akut: Untuk menjaga keseimbangan cairan
Maintenance cairan: Pasien rawat inap yang puasa untuk operasi atau prosedur
Terapi vitamin/mineral IV: Vitamin C dosis tinggi, glutathione, dll (wellness IV therapy)
Kontraindikasi:
Persiapan:
Informed consent: Penjelasan prosedur, risiko, dan alternatif. Pasien/keluarga menandatangani persetujuan (untuk prosedur invasif).
Persiapan alat dan bahan: Kateter IV (abbocath) ukuran sesuai (22-24G untuk dewasa, 24-26G untuk anak). Cairan infus sesuai order dokter (RL, NS, D5%, D10%, dll). Set infus (selang infus). Plester/tape untuk fiksasi. Kasa steril, alkohol swab, betadine. Tourniquet (tali pembendung). Sarung tangan steril. Tiang infus.
Persiapan pasien: Identifikasi pasien (nama, tanggal lahir). Tanyakan alergi (plester, antiseptik). Jelaskan prosedur singkat. Posisikan pasien nyaman (duduk atau berbaring). Pilih lengan yang akan dipasang (biasanya lengan non-dominan). Cari lokasi vena yang baik (vena mediana cubiti, vena cefalika, vena basilika di lengan bawah atau punggung tangan).
Persiapan cairan: Cek order dokter (jenis cairan, jumlah, kecepatan). Cek cairan: tidak expired, tidak ada partikel, kemasan tidak rusak. Tulis label di botol cairan (nama pasien, tanggal, jam). Pasang set infus ke botol cairan, keluarkan udara dari selang (priming).
Tahapan Prosedur:
Pasca Prosedur:
Monitor area insersi setiap 1-2 jam: Tanda infeksi (kemerahan, bengkak, panas, nyeri, keluar cairan). Tanda infiltrasi (cairan bocor ke jaringan sekitar - bengkak, dingin, pucat). Tanda flebitis (vena keras seperti tali, kemerahan mengikuti jalur vena, nyeri).
Monitor kecepatan tetesan: Pastikan sesuai order dokter. Jika terlalu cepat bisa overload cairan. Jika terlalu lambat bisa dehidrasi atau infus buntu.
Jaga kebersihan: Jangan sentuh area insersi dengan tangan kotor. Ganti plester jika basah, kotor, atau lepas. Jangan basahi area insersi saat mandi (tutup dengan plastik).
Aktivitas: Boleh bergerak, tapi jangan tarik-tarik selang. Jaga agar botol infus selalu lebih tinggi dari posisi insersi. Jangan menekuk lengan berlebihan di area insersi.
Ganti set infus: Setiap 72 jam atau sesuai protokol klinik. Ganti segera jika ada kontaminasi.
Ganti lokasi kateter: Setiap 72-96 jam atau jika ada tanda komplikasi (flebitis, infiltrasi, infeksi).
Tanda vital: Monitor suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan secara berkala. Waspadai tanda overload cairan (sesak, batuk, edema).
Balance cairan: Catat intake (cairan masuk) dan output (urine keluar). Penting untuk pasien gagal jantung atau ginjal.